SOSIOLINGUISTIK (Bahasa dan Pikiran)

KATA PENGANTAR

Tiada kata yang pantas penulis ucapkan selain kata Syukur kepada Allah SWT karena berkat Rahmat-Nyalah sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dan tak lupa Pula shalawat dan tazlim dikirimkan kepada Nabiullah Muhammad SAW. sang revolusioner sejati, yang telah mengubah paradigma umat terhadap kehidupan masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang, begitupula dengan para sahabat beliau semoga selalu dalam rahmat-Nya. Amin…

Makalah ini merupakan rangkaian mata kuliah Sosiolinguistik dimana diberikan sebagai tugas yang merangkum materi (Bahasa dan Komunikasi) yang akan didiskusikan dalam kelas. Dalam makalah ini penulis akan membahas lebih rinci tentang “Jenis-jenis Komunikasi Verbal maupun Non-verbal”. Bahwa dalam proses komunikasi, bahasa memiliki peranan penting yang digunakan sebagai alat untuk menyampaikan sebuah pesan dari mitra tutur ke lawan tutur, sehingga dengan adanya komunikasi ini proses komunikasi berjalan dengan lancar.

Selanjutnya, tak lupa penulis memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangan atau kesalahan serta kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca karena sesungguhnya Penulis hanyalah manusia biasa yang senantiasa bersama dengan kehilafan dan kesalahan itu. Mudah-mudahan makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan menjadikannya bahan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Akhir kata Penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan dinantikan demi perbaikan tugas selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

 

Makassar, 24 September 2011

 

Penulis,

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR   ……………………………………………….           i

DAFTAR ISI       …………..…………………………………….……..           ii

BAB I       PENDAHULUAN   

  1. Latar Belakang            ………………………………………………            1
  2. Rumusan Masalah       ………………………………………………            2
    1. Tujuan Penulisan         ………………………………………………            2
    2. Manfaat Penulisan       ……………………………………………….            2

BAB II     PEMBAHASAN

  1. Bahasa dan Komunikasi        ………………………………………            3

1.1  Bahasa                              ……………….………………………            3

1.2. Komunikasi                      ……………………………………….           4

1.2.1. Tujuan Komunikasi               ………………………………            6

1.2.2. Komponen Komunikasi        ………………………………            7

2.   Komunikasi Verbal                            ………………………………            8

2.1. Keterbatasan Bahasa                ………………………………            9

3. Komunikasi Non-Verbal                      ………………………………            10

3.1. Klasifikasi Pesan Non-Verbal              ………………………            11

3.2. Jenis-jenis Komunikasi Non-Verbal     ………………………            12

3.3. Variasi Budaya Dalam Komunikasi Non-Verbal         ………            14

3.4. Fungsi Komunikasi Non-Verbal          ……………..………..            14

4. Hubungan antara Bahasa dan Komunikasi     ……………………..              15

BAB III   PENUTUP

Kesimpulan                             …………………………………………        16

DAFTAR PUSTAKA               …………………………………………        iii

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kegiatan sosial ataupun gejala sosial dalam suatu masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil objek bahasa sebagai objek kajiannya. Sosiolinguistik menurut Kridalaksana (1985:12) merupakan ilmu yang mempelajari ciri dan pelbagai variasi bahasa, serta hubungan diantara para bahasawan dengan ciri fungsi variasi bahasa itu didalam suatu masyarakat bahasa. Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disipliner antara sosiologi dan linguistik. Sosiolinguistik adalah ilmu  yang mempelajari suatu tujuan bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa di dalam masyarakat, yang dimana sosiolinguitik mempelajari dan membahas aspek-aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan-perbedaan (variasi) yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatan (sosial).

Sebagai objek sosiolinguistik, bahasa dipahami sebagai sistem tanda arbiter yang dipakai manusia untuk tujuan komunikasi antara satu sama lain, sebagaimana sosiolinguistik tertuju pada percakapan manusia dalam menggunakan bahasa dengan tepat dalam latar yang berbeda. Serta pembedaan antara kemampuan tata bahasa dan kemampuan komunikatif yang dapat menghasilkan perubahan dalam metode penyajian.  Setiap teori tentu memiliki sebuah landasan agar teori itu dapat dipercaya oleh orang yang hendak menganutnya, demikian juga dengan kajian sosiolinguistik (Pariawan, 2008).

Dalam kehidupan sehari kita senantiasa melakukan hubungan komunikasi antara sesama. Dalam melakukan komunikasai antara sesama kita tidak pernah luput dari bahasa. Tanpa bahasa kita tidak mampu malakukan kegiatan apapun. Contoh kecil saja, Seorang guru tidak akan mampu menyampaikan materi yang akan diajarkan tanpa bahasa, seorang dokter tidak akan mampu menyampaikan penyakit yang diderita pasiennya tanpa adanya bahasa, begitupun seterusnya bagi pengacara, politikus, pembawa berita dan profesi apapun itu akan selalu berkenaan dengan bahasa.

Oleh kerenanya itu jangan pernah menganggap remeh satu bahasa. Dan karena bahasa yang ada segitu banyaknya, baik yang berlaku universal maupun tidak dan memilki perbedaan dan permasalahan masing-masing. perbedaan dan permasalahan inilah  yang disebut dengan masalah-masalah linguistik. Bercerita tentang bahasa berarti erat kaitannya dengan ilmu linguistik. Pada kesempatan ini Penulis akan membahas mengenai Bahasa dan Komunikasi yang mencakup di dalamnya Jenis-jenis Perbuatan Komunikasi Verbal maupun Non-Verbal, dan sebagainya.

 

 

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Adapun yang dapat kami rumuskan pada makalah ini yaitu sebagai berikut:

  1. Apakah yang dimaksud dengan Bahasa dan Komunikasi?
  2. Apakah Kaitan antara Bahasa dan Komunikasi?
  3. Apakah yang dimaksud dengan Komunikasi Verbal dan Non-Verbal?
  4. Tokoh-tokoh yang berkiprah dalam Sosiolinguistik?
  5. C.     Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulis menyusun makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai referensi tambahan sosiolinguistik terkhusus mengenai Bahasa dan Komunikasi.
  2. Memberikan informasi kepada pembaca tentang hal-hal yang berkaitan dengan berbagai jenis komunikasi bahasa.
  3. Memberikan informasi mengenai tokoh-tokoh yang berkiprah dalam sosiolinguistik.

.

  1. D.     Manfaat Penulisan

Setelah mempelajari makalah ini maka manfaat yang dapat kita peroleh yaitu:

  1. Mengetahui lebih dalam yang dimaksud dengan Bahasa dan Komunikasi.
  2. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang Jenis-jenis Komunikasi bahasa.
  3. Mengetahui tokoh-tokoh yang berkiprah dalam sosiolinguistik.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.                  BAHASA DAN KOMUNIKASI

1.1  BAHASA

Hakikat Bahasa

   1. Bahasa Sebagai Sistem

Dalam kaitan dengan keilmuan, sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan yang lainnya berhubungan secara fungsional.

   2. Bahasa Sebagai Lambang

Kata lambang sering dipadankan dengan kata symbol dengan pengertian yang sama. Berbeda dengan tanda, lambang atau simbol bersifat langsung dan lamiah. Lambang menandai sesuatu yang lain secara konvensional, tidak secara alamiah dan langsung.

   3. Bahasa adalah Bunyi

Menurut Kridaklasana, bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara.

  4. Bahasa Itu Bermakna

Lambang bunyi bahasa yang bermakana itu di dalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berupa morfem, kata, klausa, kalimat dan wacana.

  5. Bahasa Itu Arbitrer

Arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

  6. Bahasa Itu Konvensional

Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

  7. Bahasa Itu Produktif

Arti produktif adalah banyak hasilnya. Atau lebih tepat terus-menerus menghasilkan. Maka, meskipun unsure-unsur bahasa itu terbatas, tetapi jumlahnya itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas.

  8. Bahasa Itu Unik

Setiap bahas memiliki cirri khas tersendiri yang tidak dimiliki bahasa lainnya. Cirri khas ini bisa menyangkut system bunyi, system pembentukan kata, system pembentukan kalimat dan system-sistem lainnya.

  9. Bahasa Itu Universal

Artinya da cirri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Cirri-ciri yang universal ini tentunya merupakan unsure bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan denga cirri-ciri bahasa lain.

  10. Bahasa Itu Dinamis

Bahas adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepasa dari kegiatan dan     manusia sejak keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat.

   11. Bahasa Itu Bervariasi

Mengenai variasi bahasa, ada tiga yang perlu diketahui yaitu idiolek, dialek, dan ragam.

   12. Bahasa Itu Manusiawi

Alat komunikasi manusia yang namanya bahasa dalah bersifat manusia, dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri”, dan yang sejalan dengan definisi mengenai bahasa dari beberapa pakar lain, kalau dibutiri akan didapatkan beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa. Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan (Chaer dan Leonie Agustina, 2004: 11).

 

Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistematis, artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola: tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-sub sistem; atau sistem bawahan. Di sini dapat disebutkan, antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis dan subsistem semantik.

Bahasa itu juga bersifat produktif, dinamis, beragam, manusiawi. Menurut pandangan sosiolinguistik bahasa itu mempunyai ciri sebagai alat interaksi sosial dan sebagai alat mengidentifikasi diri.  (Chaer dan Leonie Agustina, 2004:13).

Masyarakat mengetahui bahwa bahasa adalah alat komunikasi. “Fungsi bahasa adalah alat komunikasi manusia, baik tertulis maupun lisan”. Dalam artikel Semangat Belajar.com fungsi bahasa yang dikemukakan oleh Wardhough itu merupakan fungsi bahasa secara umum. Terdapat beberapa fungsi bahasa secara khusus bergantung pada orang yang menggunakan bahasa itu.

Bahasa merupakan ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahasa selalu muncul dalam segala aspek dan kegiatan manusia. Bagi manusia, bahasa juga merupakan alat dan cara berpikir. Oleh karena itu, jika orang bertanya apakah bahasa itu, maka jawabannya dapat bermacam-macam. Ada yang menjawab seperti, bahasa adalah alat untuk menyampaikan isi pikiran, bahasa adalah alat untuk berinteraksi, bahasa adalah alat untuk mengekpresikan diri, dan masih banyak lagi.

Manusia juga mahkluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri melainkan selalu berinteraksi dengan makhluk sesamanya. Untuk melakukan kegiatan tersebut, manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan terbentuknya berbagai bahasa di dunia yang memiliki ciri-ciri yang unik dan berbeda dengan bahasa lainnya. Hubungan antara bahasa dengan konteks sosial tersebut dipelajari dalam bidang sosiolinguistik. Sosiolinguistik menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakainya di dalam masyarakat. Ini berarti bahwa sosiolinguistik memandang bahasa pertama sebagai sistem sosial dan sitem komunikasi, serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu. Sebagai objek dalam sosiolingiuistik, bahasa tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa, sebagaimana dilakukan oleh linguistik umum, melainkan dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau komunikasi dalam masyarakat manuasia (Chaer dan Leonie Agustina, 2004: 3).

1.2 KOMUNIKASI

Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti ‘sama’. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (make to common). Secara sederhana komuniikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another).

 

 

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.

Berikut adalah beberapa pengertian komunikasi yang diambil dari beberapa sumber :

· Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui sistem yang biasa (lazim) baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan.

· Komunikasi adalah suatu proses penyampaian dan penerimaan pesan atau informasi diantara dua orang atau lebih dengan harapan terjadinya pengaruh yang positif atau menimbulkan efek tertentu yang diharapkan. Komunikasi adalah persepsi dan apresiasi.

· Komunikasi adalah sesuatu hal dasar yang selalu dibutuhkan dan dilakukan oleh setiap insan manusia, karena berkomunikasi merupakan dasar interaksi antar manusia untuk memperoleh kesepakatan dan kesepahaman yang dibangun untuk mencapai suatu tujuan yang maksimal diantara kedua nya. Untuk mencapai usaha dalam berkomunikasi secara efektif, maka sebaiknya kita harus mengetahui sejumlah pemahaman dan persoalan yang terjadi dalam proses berkomunikasi itu sendiri.

Dalam setiap komunikasi ada dua belah pihak yang terlibat, yaitu pengirim pesan dan penerima pesan. Sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu disebut pesan. Pesan itu bisa berupa kalimat, gagasan, dan sebagainya. Pesan itu disampaikan dari pengirim yang disebut encoding, sedangkan pesan yang diterima oleh penerima pesan dari pengirim pesan disebut dekoding. Proses interaksi komunikasi tidak selalu berjalan dengan lancar, pasti menemui gangguan-gangguan.

Ada dua macam komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah (Chaer dan Leonie Agustina, 2004: 21). Komunikasi searah adalah komunikasi tanpa adanya umpan balik dari lawan tutur dan sifatnya memberitahukan. Sedangkan komunikasi dua arah memiliki umpan balik dari lawan tutur. Misalnya memberikan pertanyaan dan penerima bisa menjadi pengirim pesan.

1.2.1. Tujuan Komunikasi

Mengenai tujuan komunikasi R. Wayne Pace, Brent. D. Peterson dan M. Dallas Burnett mengatakan “Bahwa tujuan sentral dari komunikasi meliputi tiga hal utama, yakni: To Secure Understanding (memastikan pemahaman), To Establish Acceptance (membina penerimaan), To Motivate Action (motivasi kegiatan). (Effendy, 1986; 63).

 

 

Dalam menyampaikan informasi dan mencari informasi kepada mereka, agar apa yang kita sampaikan dapat dimengerti sehingga komunikasi yang kita laksanakan dapat tercapai. Pada umumnya komunikasi dapat mempunyai beberapa tujuan antara lain :

  • Supaya gagasan kita dapat diterima oleh orang lain dengan pendekatan yang persuasif bukan memaksakan kehendak.
  • Memahami orang lain, kita sebagai pejabat atau pimpinan harus mengetahui benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkannya, jangan mereka menginginkan arah ke barat tapi kita memberi jalur ke timur.
  • Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu, menggerakkan sesuatu itu dapat bermacam-macam mungkin berupa kegiatan yang dimaksudkan ini adalah kegiatan yang banyak mendorong, namun yang penting harus diingat adalah bagaimana cara yang terbaik melakukannya.
  • Supaya yang kita sampaikan itu dapat dimengerti sebagai pejabat ataupun komunikator kita harus menjelaskan kepada komunikan (penerima) atau bawahan dengan sebaik-baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengikuti apa yang kita maksudkan. (Effendy, 1993 : 18)

Jadi secara singkat dapat dikatakan tujuan komunikasi itu adalah mengharapkan pengertian, dukungan, gagasan dan tindakan.

1.2.2. Komponen Komunikasi

Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Proses komunikasi pada dasarnya adalah proses penyampaian pesan yang dilakukan seseorang komunikator kepada komunikan, pesan itu bisa berupa gagasan, informasi, opini dan lain-lain. Dalam prosesnya Mitchell. N. Charnley memperkenalkan 5 (lima) komponen yang melandasi komunikasi, yaitu sebagai berikut :

  1. Sumber (Source)
  2. Komunikator (Encoder)
  3. Pertanyaan/Pesan (Message)
  4. Komunikan (Decoder)
  5. Tujuan (Destination)

(Susanto, 1988;31)

Sedangkan Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah sebagai berikut:

  1. Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.
  2. Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
  3. Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
  4. Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain
  5. Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
  6. Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan (Protokol)

Unsur-unsur dari proses komunikasi diatas, merupakan faktor penting dalam komunikasi, bahwa pada setiap unsur tersebut oleh para ahli komunikasi dijadikan objek ilmiah untuk ditelaah secara khusus. Proses komunikasi dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian, yaitu :

  1. a.                  Komunikasi Verbal, dan
  2. b.                  Komunikasi Non-Verbal

 

  1. 2.      KOMUNIKASI VERBAL

Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (Deddy Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas.

Jalaluddin Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tatabahasa. Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti. Kalimat dalam bahasa Indonesia Yang berbunyi ”Di mana saya dapat menukar uang?” akan disusun dengan tatabahasa bahasa-bahasa yang lain sebagai berikut:

· Inggris: Dimana dapat saya menukar beberapa uang? (Where can I change some money?).

· Perancis: Di mana dapat saya menukar dari itu uang? (Ou puis-je change de l’argent?).

· Jerman: Di mana dapat saya sesuatu uang menukar? (Wo kann ich etwasGeld wechseln?).

. Spanyol: Di mana dapat menukar uang? (Donde puedo cambiar dinero?).

Menurut Larry L. Barker (dalam Deddy Mulyana,2005), bahasa mempunyai tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi.

  • Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.
  • Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
  • Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.

 

Sedang Cansandra L. Book (1980), dalam Human Communication: Principles, Contexts, and Skills, mengemukakan agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu:

· Mengenal dunia di sekitar kita. Melalui bahasa kita mempelajari apa saja yang menarik minat kita, mulai dari sejarah suatu bangsa yang hidup pada masa lalu sampai pada kemajuan teknologi saat ini.

· Berhubungan dengan orang lain. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita, dan atau mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan kita. Melalui bahasa kita dapat mengendalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang di sekitar kita.

· Untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita. Bahasa memungkinkan kita untuk lebih teratur, saling memahami mengenal diri kita, kepercayaan-kepercayaan kita, dan tujuan-tujuan kita.

2.1. Keterbatasan Bahasa:

· Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek.

Kata-kata adalah kategori-kategori untuk merujuk pada objek tertentu: orang, benda, peristiwa, sifat, perasaan, dan sebagainya. Tidak semua kata tersedia untuk merujuk pada objek. Suatu kata hanya mewakili realitas, tetapi bukan realitas itu sendiri. Dengan demikian, kata-kata pada dasarnya bersifat parsial, tidak melukiskan sesuatu secara eksak.

Kata-kata sifat dalam bahasa cenderung bersifat dikotomis, misalnya baik-buruk, kaya-miskin, pintar-bodoh, dsb.

· Kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual.

Kata-kata bersifat ambigu, karena kata-kata merepresentasikan persepsi dan interpretasi orang-orang yang berbeda, yang menganut latar belakang sosial budaya yang berbeda pula. Kata berat, yang mempunyai makna yang nuansanya beraneka ragam*. Misalnya: tubuh orang itu berat; kepala saya berat; ujian itu berat; dosen itu memberikan sanksi yang berat kepada mahasiswanya yang nyontek.

· Kata-kata mengandung bias budaya.

Bahasa terikat konteks budaya. Oleh karena di dunia ini terdapat berbagai kelompok manusia dengan budaya dan subbudaya yang berbeda, tidak mengherankan bila terdapat kata-kata yang (kebetulan) sama atau hampir sama tetapi dimaknai secara berbeda, atau kata-kata yang berbeda namun dimaknai secara sama. Konsekuensinya, dua orang yang berasal dari budaya yang berbeda boleh jadi mengalami kesalahpahaman ketiaka mereka menggunakan kata yang sama. Misalnya kata awak untuk orang Minang adalah saya ataukita, sedangkan dalam bahasa Melayu (di Palembang dan Malaysia) berarti kamu.

Komunikasi sering dihubungkan dengan kata Latin communis yang artinya sama. Komunikasi hanya terjadi bila kita memiliki makna yang sama. Pada gilirannya, makna yang sama hanya terbentuk bila kita memiliki pengalaman yang sama. Kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau kesamaan struktur kognitif disebut isomorfisme. Isomorfisme terjadi bila komunikan-komunikan berasal dari budaya yang sama, status sosial yang sama, pendidikan yang sama, ideologi yang sama; pendeknya mempunyai sejumlah maksimal pengalaman yang sama. Pada kenyataannya tidak ada isomorfisme total.

· Percampuranadukkan fakta, penafsiran, dan penilaian.

Dalam berbahasa kita sering mencampuradukkan fakta (uraian), penafsiran (dugaan), dan penilaian. Masalah ini berkaitan dengan dengan kekeliruan persepsi. Contoh: apa yang ada dalam pikiran kita ketika melihat seorang pria dewasa sedang membelah kayu pada hari kerja pukul 10.00 pagi? Kebanyakan dari kita akan menyebut orang itu sedang bekerja. Akan tetapi, jawaban sesungguhnya bergantung pada: Pertama, apa yang dimaksud bekerja? Kedua, apa pekerjaan tetap orang itu untuk mencari nafkah? …. Bila yang dimaksud bekerjaadalah melakukan pekerjaan tetap untuk mencari nafkah, maka orang itu memang sedang bekerja. Akan tetapi, bila pekerjaan tetap orang itu adalah sebagai dosen, yang pekerjaannya adalah membaca, berbicara, menulis, maka membelah kayu bakar dapat kita anggap bersantai baginya, sebagai selingan di antara jam-jam kerjanya.

Ketika kita berkomunikasi, kita menerjemahkan gagasan kita ke dalam bentuk lambang (verbal atau nonverbal). Proses ini lazim disebut penyandian (encoding). Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik (lihat keterbatasan bahasa di atas), untuk itu diperlukan kecermatan dalam berbicara, bagaimana mencocokkan kata dengan keadaan sebenarnya, bagaimana menghilangkan kebiasaan berbahasa yang menyebabkan kerancuan dan kesalahpahaman.

  1. 3.      KOMUNIKASI NON-VERBAL

Secara sederhana pesan non-verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi non-verbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsang verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima. (Mulyana, 2000 : 237)

Bentuk dasar atau bentuk paling dasar dari komunikasi adalah komunikasi non verbal. Komunikasi non verbal adalah kumpulan isyarat, gerak tubuh, intonasi suara, sikap dan sebagainya, yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi tanpa kata-kata (Boove dan Thill, 2003:4).

Komunikasi non-verbal sering juga disebut isyarat , bahasa isyarat atau bahasa diam (silent language). Ahli antropologii mengungkapkan bahwa sebelum kata-kata ditemukan, komunikasi terjadi melalui gerakan badan atau bahasa tubuh (body language). Sebagai contoh , membelakkan mata, atau mengepalkan tangan sebagai isyarat untuk menyatakan kemarahan atau mengangguk untuk menyatakan persetujuan.

Komunikasi non-verbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyaratbahasa tubuhekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.

Komunikasi non-verbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan non-verbal. Istilah non-verbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Secara teoritis komunikasi non-verbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.

Para ahli di bidang komunikasi non-verbal biasanya menggunakan definisi “tidak menggunakan kata” dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi non-lisan. Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi non-verbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar, yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun non-verbal.

 

3.1 Klasifikasi Pesan Non-Verbal

Jalaludin Rakhmat (1994) mengelompokkan pesan-pesan nonverbal sebagai berikut:

  • Pesan kinesik. Pesan non-verbal yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti, terdiri dari tiga komponen utama: pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.

Pesan fasial menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna: kebagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad. Leathers (1976) menyimpulkan penelitian-penelitian tentang wajah sebagai berikut: a. Wajah mengkomunikasikan penilaian dengan ekspresi senang dan taksenang, yang menunjukkan apakah komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk; b. Wajah mengkomunikasikan berminat atau tak berminat pada orang lain atau lingkungan; c. Wajah mengkomunikasikan intensitas keterlibatan dalam situasi situasi; d. Wajah mengkomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataan sendiri; dan wajah barangkali mengkomunikasikan adanya atau kurang pengertian.

Pesan gestural menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasi berbagai makna.

Pesan postural berkenaan dengan keseluruhan anggota badan, makna yang dapat disampaikan adalah: a. Immediacy yaitu ungkapan kesukaan dan ketidak sukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah yang diajak bicara menunjukkan kesukaan dan penilaian positif; b. Power mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator. Anda dapat membayangkan postur orang yang tinggi hati di depan anda, dan postur orang yang merendah; c. Responsiveness, individu dapat bereaksi secara emosional pada lingkungan secara positif dan negatif. Bila postur anda tidak berubah, anda mengungkapkan sikap yang tidak responsif.

Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain.

Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.

Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan secara berbeda. Pesan ini oleh Dedy Mulyana (2005) disebutnya sebagai parabahasa.

Pesan sentuhan dan bau-bauan.

Alat penerima sentuhan adalah kulit, yang mampu menerima dan membedakan emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan. Sentuhan dengan emosi tertentu dapat mengkomunikasikan: kasih sayang, takut, marah, bercanda, dan tanpa perhatian.

Bau-bauan, terutama yang menyenangkan (wewangian) telah berabad-abad digunakan orang, juga untuk menyampaikan pesan –menandai wilayah mereka, mengidentifikasikan keadaan emosional, pencitraan, dan menarik lawan jenis.

3.2. Jenis-Jenis Komunikasi Non-verbal

  • Komunikasi objek

Komunikasi objek yang paling umum adalah penggunaan pakaian. Orang sering dinilai dari jenis pakaian yang digunakannya, walaupun ini dianggap termasuk salah satu bentuk stereotipe. Misalnya orang sering lebih menyukai orang lain yang cara berpakaiannya menarik. Selain itu, dalam wawancara pekerjaan seseorang yang berpakaian cenderung lebih mudah mendapat pekerjaan daripada yang tidak. Contoh lain dari penggunaan komunikasi objek adalah seragam.

  • Sentuhan

Haptik adalah bidang yang mempelajari sentuhan sebagai komunikasi nonverbal. Sentuhan dapat termasuk: bersalaman, menggenggam tangan, berciuman, sentuhan di punggung, mengelus-elus, pukulan, dan lain-lain. Masing-masing bentuk komunikasi ini menyampaikan pesan tentang tujuan atau perasaan dari sang penyentuh. Sentuhan juga dapat menyebabkan suatu perasaan pada sang penerima sentuhan, baik positif ataupun negatif.

  • Kronemik

Kronemik adalah bidang yang mempelajari penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal. Penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal meliputi durasi yang dianggap cocok bagi suatu aktivitas, banyaknya aktivitas yang dianggap patut dilakukan dalam jangka waktu tertentu, serta ketepatan waktu (punctuality).

  • Gerakan tubuh

Dalam komunikasi nonverbal, kinesik atau gerakan tubuh meliputi kontak mataekspresi wajah, isyarat, dan sikap tubuh. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frase, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan, misalnya memukul meja untuk menunjukkan kemarahan; untuk mengatur atau menngendalikan jalannya percakapan; atau untuk melepaskan ketegangan.

  • Proxemik

Proxemik atau bahasa ruang, yaitu jarak yang Anda gunakan ketika berkomunikasi dengan orang lain, termasuk juga tempat atau lokasi posisi Anda berada. Pengaturan jarak menentukan seberapa jauh atau seberapa dekat tingkat keakraban Anda dengan orang lain, menunjukkan seberapa besar penghargaan, suka atau tidak suka dan perhatian Anda terhadap orang lain, selain itu juga menunjukkan simbol sosial. Dalam ruang personal, dapat dibedakan menjadi 4 ruang interpersonal :

  • Jarak intim
    Jarak dari mulai bersentuhan sampai jarak satu setengah kaki. Biasanya jarak ini untuk bercinta, melindungi, dan menyenangkan.
  •   Jarak  personal
    Jarak yang menunjukkan perasaan masing – masing pihak yang berkomunikasi dan juga menunjukkan keakraban dalam suatu hubungan, jarak ini berkisar antara satu setengah kaki sampai empat kaki.

Dalam jarak ini pembicara menyadari betul kehadiran orang lain, karena itu dalam jarak ini pembicara berusaha tidak mengganggu dan menekan orang lain, keberadaannya terlihat dari pengaturan jarak antara empat kaki hingga dua belas kaki.

Jarak publik yakni berkisar antara dua belas kaki sampai tak terhingga.

  • Vokalik

Vokalik atau paralanguage adalah unsur nonverbal dalam suatu ucapan, yaitu cara berbicara. Ilmu yang mempelajari hal ini disebut paralinguistik. Contohnya adalah nada bicara, nada suara, keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi, dan lain-lain. Selain itu, penggunaan suara-suara pengisi seperti “mm”, “e”, “o”, “um”, saat berbicara juga tergolong unsur vokalik, dan dalam komunikasi yang baik hal-hal seperti ini harus dihindari.

  • Lingkungan

Lingkungan juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Diantaranya adalah penggunaan ruangjaraktemperaturpenerangan, dan warna.

 

 

3.3. Variasi Budaya Dalam Komunikasi Non-verbal

Budaya asal seseorang amat menentukan bagaimana orang tersebut berkomunikasi secara nonverbal. Perbedaan ini dapat meliputi perbedaan budaya Barat-Timur, budaya konteks tinggi dan konteks rendah, bahasa, dsb. Contohnya, orang dari budaya Oriental cenderung menghindari kontak mata langsung, sedangkan orang Timur TengahIndia dan Amerika Serikat biasanya menganggap kontak mata penting untuk menunjukkan keterpercayaan, dan orang yang menghindari kontak mata dianggap tidak dapat dipercaya.

3.4. Fungsi Komunikasi Non-Verbal

Pemberian arti terhadap kode non-verbal sangat dipengaruhi oleh system sosial budaya dari masyarakat yang menggunakannya. Misalnya meludah di depan orang dipandang sebagai perbuatan kurang terpuji oleh masyarakat asia.

Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebut lima fungsi pesan non-verbal yang dihubungkan dengan pesan verbal:

  • Repetisi

Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal. Misalnya, Anda menganggukkan kepala ketika mengatakan “Ya,” atau menggelengkan kepala ketika mengatakan “Tidak,” atau menunjukkan arah (dengan telunjuk) ke mana seseorang harus pergi untuk menemukan WC.

  • Subtitusi

Perilaku non-verbal dapat menggantikan perilaku verbal, jadi tanpa berbicara Anda bisa berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, seorang pengamen mendatangi mobil Anda kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun Anda menggoyangkan tangan Anda dengan telapak tangan mengarah ke depan (sebagai kata pengganti “Tidak”).
Isyarat nonverbal yang menggantikan kata atau frase inilah yang disebut emblem.

  • Kontradiksi

Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilaku verbal dan bisa memberikan makna lain terhadap pesan verbal . Misalnya, Anda memuji prestasi teman sambil mencibirkan bibir.

  • Aksentuasi

Memperteguh, menekankan atau melengkapi perilaku verbal. Misalnya, menggunakan gerakan tangan, nada suara yang melambat ketika berpidato. Isyarat nonverball tersebut disebut affect display.

  • Komplemen

Perilaku Nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal. Misalnya, saat kuliah akan berakhir, Anda melihat jam tangan dua-tiga kali sehingga dosen segera menutup kuliahnya.

 

Sementara itu, Dale G. Leathers (1976) dalam Non-verbal Communication Systems, menyebutkan enam alasan mengapa pesan verbal sangat signifikan. Yaitu:

a. Faktor-faktor non-verbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal. Ketika kita mengobrol atau berkomunikasi tatap muka, kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan non-verbal. Pada gilirannya orang lainpun lebih banyak ’membaca’ pikiran kita lewat petunjuk-petunjuk non-verbal.

b. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan noverbal ketimbang pesan verbal.

c. Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancuan. Pesan nonverbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar.

d. Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memeperjelas maksud dan makna pesan. Diatas telah kita paparkan pesan verbal mempunyai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi.

e. Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal. Dari segi waktu, pesan verbal sangat tidak efisien. Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi, repetisi, ambiguity, dan abtraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pikiran kita secara verbal.

f. Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat. Ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan dan emosi secara tidak langsung. Sugesti ini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implisit (tersirat).

4. Hubungan Antara Bahasa Dan Komnikasi

Bahasa mempunyai kaitan yang erat dalam proses komunikasi. Tidak ada satu peristiwa komunikasipun yang tidak melibatkan bahasa. Komunikasi pada hahekatnya adalah proses penyampaian pesan dari pengirim kepada  penerima. Hubungan komunikasi antara pengirim dan penerima, dibangun berdasarkan penyusunan kode atau simbol bahasa oleh pengirim (chiffrement) dan pembongkaran kode atau simbol bahasa oleh penerima (dechiffrement) (Rusdiarti, 2003: 35).

Mengingat kenyataan bahwa dalam berkomunikasi kita dihadapkan oleh varian penerima yang sangat beragam, maka keberhasilan komunikasi akan sangat ditentukan oleh bagaimana cara kita menyampaikan pesan. Tidak jarang dalam kenyataan sehari-hari kita dapati bahwa komunikasi yang kita lakukan tidak berhasil akibat ketidaktepatan cara berkomunikasi yang kita lakukan. Wardhaugh dalam bukunya An Introduction to Sociolinguistics (1986) menjelaskan bahwa ketika orang akan mulai berbicara paling tidak ada tiga hal yang mesti diperhatikan agar komunikasinya berlangsung efektif. Pertama,  apa yang akan dibicarakan. Kedua, dengan siapa dia akan bicara, dan ketiga, bagaimana cara membicarakannya. Dalam hal ini terkait dengan pemilihan ragam bahasanya, jenis kalimat, kosa kata, bahkan tinggi rendahnya suara saat berbicara. Keputusan mengenai mana yang akan dipakai  sangat tergantung pada sejauh mana hubungan sosial dengan lawan bicara.

Lebih lanjut, Badudu dalam bukunya Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (1995) menjelaskan berbahasa yang efektif ialah berbahasa yang sesuai dengan “lingkungan” di mana bahasa itu digunakan. Menurutnya, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu: (a) orang yang berbicara; (b) orang yang diajak bicara; (c) situasi pembicaraan apakah formal atau non-formal (santai); dan (d) masalah yang dibicarakan (topik).

Menurut Burke (dalam Eriyanto, 2000) dalam berkomunikasi manusia cenderung memilih kata-kata tertentu untuk mencapai tujuannya. Pemilihan kata-kata tersebut bersifat strategis. Dengan demikian, kata yang diucapkan, simbol yang diberikan, dan intonasi pembicaraan tidaklah semata-mata sebagai ekspresi pribadi atau cara berkomunikasi, tetapi dipakai dengan sengaja untuk maksud tertentu.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.

Bahasa mempunyai kaitan yang erat dalam proses komunikasi. Tidak ada satupun peristiwa komunikasi yang tidak melibatkan bahasa. Komunikasi pada hahekatnya adalah proses penyampaian pesan dari pengirim kepada  penerima. Hubungan komunikasi antara pengirim dan penerima, dibangun berdasarkan penyusunan kode atau simbol bahasa oleh pengirim dan pembongkaran kode atau simbol bahasa oleh penerima.

Manusia juga mahkluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri melainkan selalu berinteraksi dengan makhluk sesamanya. Untuk melakukan kegiatan tersebut, manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan terbentuknya berbagai bahasa di dunia yang memiliki ciri-ciri yang unik dan berbeda dengan bahasa lainnya. Hubungan antara bahasa dengan konteks sosial tersebut dipelajari dalam bidang sosiolinguistik. Sosiolinguistik menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakainya di dalam masyarakat. Ini berarti bahwa sosiolinguistik memandang bahasa pertama sebagai sistem sosial dan sitem komunikasi, serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu. Sebagai objek dalam sosiolingiuistik, bahasa tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa, sebagaimana dilakukan oleh linguistik umum, melainkan dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau komunikasi dalam masyarakat manuasia (Chaer dan Leonie Agustina, 2004: 3).

Ketika kita berkomunikasi, kita menerjemahkan gagasan kita ke dalam bentuk lambang (verbal atau nonverbal). Proses ini lazim disebut penyandian (encoding). Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik (lihat keterbatasan bahasa di atas), untuk itu diperlukan kecermatan dalam berbicara, bagaimana mencocokkan kata dengan keadaan sebenarnya, bagaimana menghilangkan kebiasaan berbahasa yang menyebabkan kerancuan dan kesalahpahaman.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Chaer, Abdul dkk. 2004. “Sosiolinguistik Perkenalan Awal ”. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 1985. “Fungsi bahasa dan sikap bahasa”. Flores: Nusa Indah.

Pariawan I Wayan. 2008. “Sikap Bahasa Dalam Kajian Sosiolinguistik”

Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.

Jalaludin Rakhamat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.

Onong Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosdakarya.

Verderber, Rudolph F.,2005, “Chapter 4: Communicating through Nonverbal Behaviour”. Communicate! (edisi ke-11)

Indah Kusumastuti, Yatri, 2009, “Chapter 2: Komunikasi dalam Organisasi”. Komunikasi Bisnis (edisi ke -1).

Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D.; ilmu komunikasi suatu pengantar ; PT Remaja Rosdakarya ; Bandung

Sutrisna Dewi. “Komunikasi Bisnis”

Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.si

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s